Jumat, 11 Oktober 2013
Nasihat Syaikh Rabi’ Terhadap Beberapa Masalah Manhajiyyah di Indonesia
assalammualaikum
Alhamdulillah berkat rahmat dan taufiq dari Allah telah terjadi jalsah (pertemuan) para du’at/asatidzah Indonesia dengan al-Walid asy-Syaikh al-’Allamah Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah di kediaman beliau pada Ramadhan 1433 H lalu, guna menanyakan beberapa permasalahan manhajiyyah yang menjadi perselisihan antara para duat di Indonesia.
Tentunya, hasil dari pertemuan tersebut bisa menjadi bimbingan dan pedoman dalam menyelesaikan perselisihan yang selama ini terjadi.Tapi, kenyataan yang ada sangat menyedihkan.Setelah pertemuan tersebut justru muncul interpretasi dan persepsi yang berbeda-beda terhadap nasehat dan arahan yang disampaikan oleh asy-Syaikh Rabi’, bahkan sebagian pihak ada yang berani membantah ucapan asy-Syaikh Rabi’.Sehingga perselisihan yang ada terus berkelanjutan.
Suasana ini membuat prihatin sebagian para asatidzah, terutama yang turut hadir dalam jalsah Ramadhan 1433 H tersebut.Namun dengan taufiq dari Allah, hal itu tidak membuat para asatidzah tersebut terburu menyalahkan, atau menyebarkan kaset, atau tindakan lainnya yang membuat situasi tambah runyam. Walaupun sebenarnya banyak pertanyaan dari ikhwah salafiyyin tentang apa isi sebenarnya dari jalsah tersebut. Kenapa simpang siur? Maka para asatidzah tersebut berkumpul menuliskan kesimpulan isi nasehat asy-Syaikh Rabi’ tersebut.Agar tidak salah, atau dianggap sepihak, maka tulisan kesimpulan tersebut dikirim kepada asy-Syaikh Rabi’ untuk beliau baca dan beliau koreksi.
Posted By:
Unknown
On 06.23
In
Inilah 30 Situs Islam Terpopuler di Indonesia
assalammualaikum
Anda seorang muslim yang suka berselancar di internet untuk mencari referensi Islam atau kabar dunia Islam? Berikut ini 30 situs Islam terpopuler di Indonesia berdasarkan ranking alexa pada 1 April 2013, yang bisa Anda pertimbangkan untuk menjadi referensi online:
1. republika.co.id (60)
2. dakwatuna.com (279)
3. arrahmah.com (321)
4. voa-islam.com (388 )
5. pkspiyungan.org (391)
6. eramuslim.com (433)
7. hidayatullah.com (731)
8. uii.ac.id (849)
9. syariahmandiri.co.id (875)
10. fimadani.com (878)
11. uin-malang.ac.id (897)
12. umm.ac.id (1.024)
13. islampos.com (1.030)
14. uad.ac.id (1.077 )
15. muslim.or.id (1.078)
16. nu.or.id (1.126)
17. konsultasisyariah.com (1.130)
18. umy.ac.id (1.143)
19. hizbut-tahrir.or.id (1.422)
20. islamedia.web.id (1.449)
21. bersamadakwah.com (1.602)
22. myquran.org (1.618)
23. muamalatbank.com (1.630)
24. pengusahamuslim.com (1.693)
25. nahimunkar.com (1.765)
26. rumaysho.com (1.861)
27. radiorodja.com (2.145)
28. asysyariah.com (2.510)
29. mizan.com (2.656)
30. suara-islam.com (2.892)
Alhamdulillah, dukungan pembaca membuat bersamadakwah.com masuk 30 besar Situs Islam Terpopuler di Indonesia dan rankingnya terus membaik.
Posted By:
Unknown
On 06.18
In
15 Kesalahan Mendidik Anak dan Cara Islami Memperbaikinya Oleh Dr. Muhammad bin Abdullah as Sahim
bismillahirrohmanirrohim..
kali ini saya mau mereview sebuah buku, judulnya ‘15 Kesalahan Mendidik Anak dan Cara Islam Memperbaikinya’ karangan Dr. Muhammad bin Abdullah as Sahim yang diterbitkan oleh Media Hidayah.
Kenapa saya tertarik membaca buku ini? memang akhir-akhir ini saya senang membaca buku mengenai pendidikan anak, untuk persiapan nantinya jika Alloh berkenan memberi kami seorang anak. bukankah ketika akan menikah kita juga belajar seluk beluk mengenai pernikahan? lalu mengapa ketika kita ingin mempunyai anak kita tidak belajar mengenai itu..
Sedemikian kompleks mendidik anak, sebanding itu pula Alloh subhana wa ta’ala memberi pahala kepada orang tua yang mampu mendidik anak sesuai aturan-Nya. Jadi jangan sampai kita melakukan kesalahan-kesalahan yang disebutkan di buku ini ketika mendidik anak kita nantinya.
Tujuan tertinggi seseorang dalam mendidik adalah terealisasikannya pada diri anak didik: ibadah kepada Alloh, ikhlas karena-Nya, dan terhindar dari segala kesyirikan.
Membaca buku ini saya merasa ‘makjleb’, beberapa kesalahan yang ditulis di sini banyak saya jumpai di sekitar lingkungan saya tinggal. Misal ketika anak mogok sekolah, orang tua menakutinya dengan ucapan ‘nanti ditangkap pak polisi kalau nggak mau sekolah’ bahkan yang ekstrim ada orang tua yang mengatakan ‘nanti kamu dikhitankan lho kalau nggak mau sekolah’. Walah walah, masa menakuti anak pakai khitan, padahal kan khitan wajib untuk anak laki-laki, nanti kalau anak sudah baligh tapi nggak mau khitan gara-gara sejak kecil ditakut-takuti seperti itu, gimana?
Sebagai orang tua, atau calon orang tua, memang sebaiknya kita mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum kelahiran anak kita, jadi ketika anak kita lahir, kita sudah mempunyai bekal yang cukup untuk mendidiknya.
Kalau sudah terlanjur punya anak dan menerapkan pendidikan yang ‘salah’ ada baiknya kita ubah dari sekarang. Karena mendidik anak tak semata hanya mengajari anak saja, tapi kita sebagai orang tua pun dituntut untuk selalu belajar.
Berpegang teguh dengan syariat Alloh, mengikuti sunnah Rasul dan berdoa kepada Alloh merupakan hal yang sangat penting dalam keberhasilan mendidik anak.
Buku ini membahas beberapa kesalahan dalam mendidik anak di antaranya:
1. takut kepada manusia
tanpa sadar kadang kala orang tua membelokkan anak didik dari perasaan takut diawasi oleh Alloh, kepada ketakutan dan rasa diawasi oleh manusia.
Contoh, perkataan orang tua:
- Nak tinggalkan perbuatan ini supaya kau tidak ditertawakan orang!
- Nak, lakukan ini supaya orang suka kepadamu!
- Nak, apa yang akan dikatakan orang kalau kau melakukan perbuatan ini…
Dampak jelek:
- Anak terbiasa menengok bagaimana respon manusia ketika hendak beribadah atau bermuamalah.
- Anak akan tekun beribadah hanya tatkala masyarakat melakukan amalan itu, tapi bila dia kembali ke lingkungannya (yang durhaka) dia pun akan kembali kepada kesesatan.
- Anak akan meninggalkan ibadah karena jauh dari control masyarakat dan hilangnya perasaan diawasi oleh Alloh.
- Anak akan sangat mudah melakukan pelanggaran syariat di saat tidak diawasi orang
Solusi:
- Para pendidik menanamkan pada hati anak-anak kalian rasa diawasi oleh Alloh dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, beramal ibadah karena Alloh semata dalam keadaan sedih maupun senang.
“Barangsiapa mengharapkan ridha Alloh dengan rela mendapatkan murka manusia, maka Alloh akan mencukupkan dia dari tanggungan manusia; dan barangsiapa mengharapkan ridha manusia dan rela mendapat murka Alloh, maka Alloh akan jadikan dia tergantung kepada manusia.”
2. mendidik anak dengan motivasi duniawi
banyak kita dapati orang yang menghabiskan waktunya tanpa mengetahui hakikat tujuan hidupnya, mereka lalai akan tujuan hidupnya.
Contoh, perkataan orang tua:
- “Berupayalah kamu untuk membangun masa depanmu” sehingga mencari sarana hidup pun menjadi tujuan utama. kita tidak mengatakan “kerjakanlah ini dan itu karena umurmu semakin bertambah.” karena kita tahu bahwa umur manusia terbatas. mengapa kita tidak memberinya keyakinan bahwa rizki untuk hidup di dunia ini sudah dijamin oleh Alloh sebagaimana kita memberinya keyakinan bahwa ajal itu tidak bisa dikurangi.
Dampak jelek:
- Kesukaan anak yang berlebihan pada liburan dan ijazah, serta berbuat curang dalam ujian (bila mendapat kesempatan) karena anak didik tidak konsentrasi untuk meraih ilmu dari belajarnya, tapi hanya memandang sekolah sebagai formalitas untuk mewujudkan impian dan cita-citanya.
- Anak lebih suka memperturutkan hawa nafsu, sibuk dalam urusan dunia, lalai akan tujuan hidup yang sebenarnya, merasa tentram dengan urusan dunia namun lalau dengan akhirat, serta hilangnya kemampuan yang telah Alloh amanahkan kepadanya.
- Akan membelokkan anak dari tujuan hidup yang mulia, sehingga terbukalah peluang bagi musuh Islam untuk menguasai mereka
Solusi:
- Seorang pendidik perlu menjauhkan anak didiknya dari hal-hal yang membawa kepada kebinasaan dan ketergelinciran, mengangkat derajad mereka dari derajad binatang menjadi derajad manusia yang mempunyai semangat untuk mengemban amanat.
- Seorang pendidik perlu membuat anak didik mulia dengan memberinya risalah ilahi dan memberinya amanat kepemimpinan, sehingga tinggi semangat dan terarah hidupnya.
- Menanamkan pada diri anak perasaan sebagai seorang Islam yang wajib berbeda dari orang kafir dalam segala hal, penampilan, gaya bicara, maupun tujuan dan angan-angannya.
- Menanamkan perlunya bergaul dengan orang-orang yang dekat kepada Alloh.
- Memberikan pengarahan kepada anak dan mendorongnya untuk berperan serta mewujudkan cita-cita dan impian kaum muslimin.
- Memotivasinya agar menegakkan syariat secara individu di rumahnya, serta memanfaatkan waktu senggangnya untuk kegiatan yang bermanfaat bagi kaum muslimin.
3. mendidik anak suka mengejek
Disebabkan berbagai macam nikmat pada diri seseorang, dan akibat didikan yang salah, maka muncullah anak sebagai seorang yang suka mengejek dan mencela.
Sebab:
- Banyaknya kenikmatan dan karunia yang dia miliki serta banyaknya orang fakir yang dating untuk menjadi pekerjanya, hal ini mendorong orang yang mempunya potensi takabur untuk berlaku takabur, sombong, dan meremehkan orang lain
- Lalai terhadap ukuran Alloh yang telah ditetapkan sebagai pedoman dalam menghormati dan memuliakan seseorang (taqwa).
- Lalai adanya adzab Alloh.
- Ketidaktahuan akan peringatan dan larangan Alloh dan RasulNya tentang mengejek dan menghina kaum muslimin (karena boleh jadi mereka yang diejek lebih baik daripada mereka yang mengejek).
- Mengganti ukuran Ilahi yang telah Dia tetapkan untuk mengukur derajat dan kemuliaan hambaNya dengan timbangan keduniaan jahiliyah seperti warna kulit, bangsa, tanah kelahiran, suku, dll
Dampak jelek:
- Bila disebut-sebut orang yang terkemuka, dia sangat bersemangat karena dirinya merasa sepadan dengan mereka.
- Bila disebut-sebut orang yang kaya dihadapannya, dia akan bertanya panjang lebar bagaimana cara mencari kekayaan tersebut. Bila yang disebut orang miskin, maka dia acuh tak acuh.
- Anak merasa bangga ketika memakai mobil bagus, berpakaian trendy, dan kepada orang yang bermobil usang dia akan sombong.
Solusi:
- Perlu diketahui sungguh-sungguh bahwa mengejek bisa mengeluarkan diri dari Islam, seperti; mengolok-olok Alloh, malaikat, para nabi, para rasul serta orang shaleh.
- Perlu diketahui bahwa konsekuensi mengejek adalah adzab yang pedih.
- Perlu disadari bahwa semua kenikmatan datangnya dri Alloh, maka selayaknya pujilah Alloh dan bersyukur kepadanya.
- Ketika setan menghiasi diri kita untuk berbuat congkak, sadarlah bahwa semua nikmat itu adalah dari Alloh dan Alloh maha kuasa untuk mencabutnya juga.
waalaikumsalam
Posted By:
Unknown
On 06.14
In
14 Cara mendidik anak sholeh
Praktik pendidikan Nabi Muhammad SAW pada anak-anaknya dapat di gambarkan di bawah ini:
1. Rasulullah senang bermain-main (menghibur) dengan anak-anak dan kadang-kadang beliau memangku mereka. Beliau menyuruh Abdullah, Ubaidillah, dan lain-lain dari putra-putra pamannya Al-Abbas r.a. untuk berbaris lalu berkata, “ Siapa yang terlebih dahulu sampai kepadaku akan aku beri sesuatu (hadiah).”merekapun berlomba-lomba menuju beliau, kemudian duduk di pangkuannya lalu Rasulullah menciumi mereka dan memeluknya.
2. Ketika ja’far bin Abu Tholib r.a, terbunuh dalam peperangan mut’ah, Nabi Muhammad SAW, sangat sedih. Beliau segera datang ke rumah ja’far dan menjumpai isterinya Asma bin Umais, yang sedang membuat roti, memandikan anak-anaknya dan memakaikan bajunya. Beliau berkata, “Suruh kemarilah anak-anak ja’far. Ketika mereka dating, beliau menciuminya. Sambil meneteskan air mata. Asma bertanya kepada beliau karena telah mengetahui ada musibah yang menimpanya.
3. “Wahai rasulullah, apa gerangan yang menyebabkan anda menangis? Apakah sudah ada beritayang sampai kepada anda mengenai suamiku Ja’far dan kawan-kawanya?” Beliau menjawab, “Ya benar, mereka hari di timpa musibah.” Air mata beliau mengalir dengan deras. Asma pun menjerit sehingga orang-orng perempuan berkumpul mengerumuninya. Kemudian Nabi Muhammad SAW. kembali kepada keluarganya dan beliau bersabda, “janganlah kalian melupakan keluarga ja’far, buatlah makanan untuk mereka, kerena sesungguhnya mereka sedang sibuk menghadapi musibah kematian ja’far.”
4. Ketika Rasulullah melihat anak Zaid menghampirinya, beliau memegang kedua bahunya kemudian menagis. Sebagian sahabat merasa heran karena beliau menangisi orang yang mati syahid di peperangan Mut’ah. Lalu Nabi Muhammad SAW. pun menjelaskan kepada mereka bahwa sesungguhnya ini adalah air mata seorang kawan yang kehilangan kawannya.
5. Al-Aqraa bin harits melihat Nabi Muhammad SAW. mencium Al-Hasan r.a. lalu berkata, “Wahai Rasulullah, aku mempunyai sepuluh orang anak, tetapi aku belum pernah mencium mereka.” Rasulullah bersabda, “Aku tidak akan mengangkat engkau sebagai seorang pemimpin apabila Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hatimu. Barang siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang, niscaya dia tidak akan di sayangi.”
6. Seorang anak kecil dibawa kepada Nabi Muhammad SAW. supaya di doakan dimohonkan berkah dan di beri nama. Anak-anak tersebut di pangku oleh beliau. Tiba-tiba anak itu kencing, lalu orang-orang yang melihatnya berteriak. Beliau berkata, “jangan di putuskan anak yang sedang kencing, buarkanlah dia sampai selesai dahulu kencingnya.”
Beliau pun berdoa dan memberi nama, kemudian membisiki orang tuanya supaya jangan mempunyai perasaan bahwa beliau tidak senang terkena air kencing anaknya. Ketika mereka telah pergi, beliau mencuci sendiri pakaian yang terkena kencing tadi.
7. Ummu Kholid binti kho;id bin sa’ad Al-Amawiyah berkata, “Aku beserta ayahku menghadap Rasululloh dan aku memakai baju kurung (gamis) berwarna kuning. Ketika aku bermain-main dengan cincin Nabi Muhammad SAW. ayahku membentakku, maka beliau berkata, “Biarkanlah dia.” Kemudian beliau pun berkata kepadaku, “bermainlah sepuas hatimu, Nak!
8. Dari Anas, diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW. selalu bergaul dengan kami. Beliau berkata kepada saudara lelakiku yang kecil, “Wahai Abu Umair, mengerjakan apa si nugair (nama burung kecil).”
9. Nabi Muhammad SAW. melakukan shalat, sedangkan Umamah binti zainab di letakkan di leher beliau. Di kala beliau sujud, Umamah tersebut di letakkanya dan bila berdiri di letakkan lagi dil leher beliau. Umamah adalah anak kecil dari Abu Ash bin Rabigh bin Abdusysyam .
10. Riwayat yang lebih masyhur menyebutkan, Rasulullah perna lama sekali sujud. dalam shalatnya, maka salah seorang sahabat bertanya,” Wahai Rasulullah, sesungguhnya anda lama sekali sujud, hingga kami mengira ada sesuatu kejadian atau anda sedang menerima wahyu. Nabi Muhammad SAW, menjawab, “Tidak ada apa-apa, tetaplah aku di tunggangi oleh cucuku, maka aku tidak mau tergesa-gesahsampai dia puas.” Adapun anak yang di maksud ialah Al-Hasan atau Al-Husain Radhiyallahu Anhuma
11. Ketika Nabi Muhammad SAW. melewati rumah putrinya, yaitu sayyidah fatimah r.a., beliau mendengar Al-Husain sedang menangis, maka beliau berkata kepada Fatimah, “Apakah engkau belum mengerti bahwa menangisnya anak itu menggangguku.” Lalu beliau memangku Al-Husain di atas lehernya dan berkata, Ya Allah, sesungguhnya aku cinta kepadanya, maka cintailah dia.
Ketika Rasulullah SAW. sedang berada di atas mimbar, Al-Hasan tergelincir. Lalu beliau turun dari mimbar dan membawa anak tersebut.
12. Nabi Muhammad SAW. sering bermain-main dngan Zainab binti Ummu Salamah r.a. beliau memanggilnya, “Hai Zuwainib, hai Zuwainib berulang-rulang.”
13. Nabi Muhammad SAW. sering berkunjung ke rumah para sahabat Anshar dan memberi salam pada anak-anaknya serta mengusap kepala mereka.
14. Diriwayatkan, pada suatu hari raya Rasulullah SAW. keluar rumah untuk menunaikan shalat ID. Di tengah jalan, beliau melihat banyak anak kecil sedang berman dengan gembira sambil tertawa-tawa. Mereka mengenakan baju baru, sandal mereka pun tampak mengkilap. Tiba-tiba pandangan beliau tertuju pada salah seorang yang sedang duduk menyendiri dan sedang menangis tersedu-sedu. Bajunya compang-camping dan kakinya tiada bersandal. Rasulullah SAW, pun mendekatinya , lalu di usap-usap anak itu mendekapya ke dadabeliau seraya bertanya, “mengapa kau menangis, Nak .” Anak itu hanya menjawab, “biarkanlah aku sendiri.” Anak itu belum tahu bahwa orang yang ada di hadapannya itu adalah Rasulullah SAW. yang terkenal sebagai pengasih. “Ayahku mati dalam suatu pertempuran bersama Nabi,” lanjut anak itu. “Lalu ibuku kawin lagi. Hartaku habis di makan suami ibuku, lalu aku di usir dari rumahnya. Sekarang, aku tak mempunyai baju baru dan makanan yang enak. Aku sedih meihat kawan-kawanku bermain dengan riangnya itu.l”
Baginda Rasulullah SAW. lantas membimbing anak tersebut seraya menghiburnya, “Sukakah kamu bila aku menjadi bapakmu, Fatimah menjadi kakakmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudaramu?” Anak itu segera tahu dengan siapa ia berbicara. Maka langsung ia berkata, “mengapa aku tak suka, ya Rasulullah?” kemudian, Rasulullah SAW, pun membawa anak itu ke rumah beliau, dan di berinya pakaian yang paling indah, memandikannya, dan memberinya perhiasan agar ia tampak lebih gagah, lalu mengajak makan.
Sesudah itu, anak itu pun keluar bermain dengan kawan-kawannya yang lain, sambil tertawa-tawa sambil kegirangan. Melihat perubahan pada anak itu, kawan-kawannya merasa heran lalu bertanya, “Tadi kamu menagis, mengapa sekarang bergembira?” jawab anak itu, tadi aku kelaparan, sekarang sudah kenyang. Tadi aku tak mempunyai pakaian, sekarang aku mempunyainya, tadi aku tak punya bapak, sekarang bapakku Rasulullah dan ibuku Aisyah.” Anak-anak lain bergumam, Wah, andaikan bapak kita mati dalam perang.” Hari-hari berikutnya, anak itu tetap di pelihara, oleh Rasulullah SAW. hingga beliau wafat.
Posted By:
Unknown
On 06.06
In
Kamis, 10 Oktober 2013
Cara didik anak menjadi bijak
Tentunya anda pernah terbaca pelbagai kaedah untuk mendidik anak menjadi seorang yang penyabar. Namun ada satu cara yang diakui semua pakar sebagai Cara Terbaik, Paling Bijak danPaling Efektif untuk mendidik anak menjadi seorang yang penyabar. Cara ini namanya Role Modeling. Role Modeling bermaksud menjadikan diri anda sebagai contoh atau model untuk ditiru oleh anak anda.
Anak-anak mendengar apa yang anda perkatakan tapi meniru apa yang anda buat. Anak-anak memang suka meniru. Kanak-kanak yang dijaga oleh ibu bapa, tentunya suka meniru apa yang dibuat oleh ibu dan bapa mereka. Oleh itu, saya ingin berkongsi sedikit pengalaman, apa yang saya pelajari dari arwah bapa saya tentang erti kesabaran.
Seperti anda, saya juga biasa membaca tentang tips mendidik anak menjadi orang yang penyabar. Tapi saya yakin, apa yang saya pelajari dari arwah bapa saya jauh lebih berkesan daripada apa yang saya baca dalam pelbagai buku.
Yang menariknya, bapa saya ini jarang berada di rumah. Terlalu jarang. Malah, bapa saya tidak pernah datang ke kenduri kahwin sepupu-sepupu saya, kenduri keluarga, atau makan malam bersama keluarga.Jika ada saudara-mara yang meninggal dunia sekalipun, kelibatnya tidak kelihatan dan hanya diwakili oleh ibu saya. Lazimnya dia ada di rumah lewat malam selepas balik dari kerja. Itu pun dalam keadaan letih lesu, hampir tiada tenaga untuk bergurau dan bermesra dengan anak-isteri.
Oh ya, satu-satunya waktu ayah saya ada di rumah ialah di Hari Raya. Itu pun sekejap sahaja. Cukup untuk solat Hari Raya sebelum bergegas pulang untuk menyalin pakaian dan pergi kerja semula. Ayah saya seorang pemandu bas. Pekerjaannya apa yang disebut sebagai ‘kolar biru’ atau buruh. Dia hanya dibayar gaji yang rendah mengikut berapa jam dia memandu bas. Akibatnya, bapa saya tidak pernah mampu untuk mengambil cuti langsung.
Ada dua kisah bapa saya yang ingin saya paparkan di sini, mengenai bagaimana arwah mendidik saya dan adik-beradik saya untuk belajar bersabar.
Bersabar Untuk Mendapat Apa Yang Dihajati
Sewaktu saya di sekolah menengah, skim pinjaman buku mula diperkenalkan. Pelajar bumiputra diberi pinjaman buku dengan syarat buku-buku tersebut dipulangkan pada akhir tahun. Tujuannya supaya buku-buku tersebut boleh dipakai semula oleh pelajar-pelajar yang naik tingkatan. Jika nasib baik, dapatlah buku baru. Jika tidak, dapatlah buku yang sudah dipakai oleh orang lain.
Saya masih ingat ketikanya apabila saya memberitahu bapa saya tentang skim pinjaman buku ini. Saya tunjukkan borang yang perlu diisi. Tetapi dia hanya berkata, “Tak payah pinjam buku. Kalau pinjam dapat buku bekas orang sudah guna, mungkin buku tu dah diconteng atau ada yang koyak halamannya. Kalau dapat buku baru, kena dipulangkan pada hujung tahun. Lah (nama timangan saya di rumah, singkatan dari Jamilah) tak boleh gunakan lagi untuk rujukan tahun seterusnya.” Begitulah tegasnya bapa saya.
Rumah di mana saya dan adik-beradik saya dibesarkan kemas dan bersih tetapi tidak secantik rumah orang lain. Malah, bapa saya tidak mampu untuk membeli cat untuk mengecat rumah kami. Oleh itu, dinding rumah kami bolang-boleng; penuh dengan bekas air hujan! Setiap kali hujan turun, ia akan meninggalkan kesan seperti peta dalam Atlas Dunia.
Saya dan adik-beradik serta emak saya cukup maklum mengapa kami berkeadaan begitu. Bapa saya berhempas-pulas bekerja dari awal pagi sehingga malam, bukan sahaja untuk menyediakan makanan yang berzat untuk kami, tetapi juga dia mahu memastikan ada cukup wang untuk membayar yuran sekolah DAN buku baru DAN baju baru untuk Hari Raya setahun sekali. Demikianlah hidup kami seharian, tahun demi tahun.
Sejak kecil, saya dan adik-beradik belajar dari bapa saya bahawa satu-satunya cara untuk berjaya, mendapatkan apa yang kami hajati ialah dengan berusaha dan bersabar. Inilah yang tertanam dalam jiwa saya sehingga saya menjadi pelajar perempuan pertama dari kampung saya yang berjaya menjejakkan kaki ke universiti di luar negara. Malah, kesemua adik-beradik saya berjaya menuntut di universiti; sesuatu yang tidak pernah berlaku sebelumnya dalam sejarah kampung kami.
Bersabar Di Kala Susah dan Sakit
Bapa saya banyak menghabiskan tiga bulan terakhir hayatnya terlantar di hospital di Johor Bahru. Saya sering berulang-alik dari Kuala Lumpur ke sana kerana berganti-ganti dengan adik-beradik saya untuk menemaninya. Beberapa minggu sebelum dia meninggal dunia, bapa saya hampir tidak boleh menelan apa sahaja yang disuakan ke bibirnya. Ini kerana, ada ketumbuhan di dalam kerongkongnya. Yang boleh ditelan sedikit hanyalah beberapa titik air.
Doktor mengenakan sejenis alat disebut sebagai ‘shunt’ untuk memasukkan sedikit cecair nutrien ke dalam tubuh bapa yang semakin hari semakin uzur. Apa yang menghairankan saya ialah, meskipun jelas bapa saya tidak selesa dan menderita, setiap kali saya bertanyakan padanya, “Sakit ke abah?” Dia hanya menggelengkan kepala dan menjawab lembut, “Taklah.” Dia langsung tidak keluh-kesah dengan apa yang dialaminya.
Setiap malam saya di hospital, saya tidur di sofa di sebelah katil bapa. Oleh kerana dia tidak boleh makan atau minum, dia bergantung kepada drip yang dipasang pada urat di pergelangan tangannya. Saya sering tertanya-tanya sehingga kini: Bagaimanakah seorang yang benar-benar menderita boleh begitu sabar dan tenang? Dia cukup redha dengan ujian yang diharunginya. Jauh di lubuk hati saya, saya berazam untuk menjadi orang yang penyabar seperti bapa.
Saya harap dua kisah di atas meyakinkan anda bahawa cara paling bijak, terbaik dan paling berkesan untuk mendidik anak menjadi insan yang penyabar ialah dengan anda sendiri menjadi orang yang penyabar. Tunjukkan contoh pada anak anda apa ertinya kesabaran dengan perbuatan anda sendiri, bukan setakat memberitahunya untuk bersabar.
Bersabarlah jika anda dilanda masalah kewangan. Bersabarlah jika anda dibuang kerja. Bersabarlah jika anda kehilangan orang yang disayangi. Bersabarlah jika anak-anak membuat salah dan silap. Pendekata, bersabarlah jika Allah Maha Pengasih menguji anda. Ingatlah:ANAK-ANAK ANDA TIDAK MENURUT APA YANG ANDA KATAKAN. MEREKA HANYA MENIRU APA YANG ANDA LAKUKAN.
Posted By:
Unknown
On 18.46
In
Tips cara mendidik anak menjadi sholeh
Alhamdulillah.
Pendidikan anak
merupakan kewajiban orang tua. Allah Ta'ala
telah memerintahkan dalam Al-Quran, begitupula Rasululllah shallallahu alaihi wa
sallam dalam haditsnya.
Firman Allah Ta'ala,
يا أيها الذين آمنوا
قوا أنفسكم وأهليكم
ناراً
وقودها
الناس
والحجارة
عليها
ملائكة
غلاظ شداد لا يعصون الله ما أمرهم
ويفعلون
ما يؤمرون (سورة التحريم:
6)
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya
malaikat-malaikat yang kasar,
keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu
mengerjakan apa yang diperintahkan."
(QS. At-Tahrim: 6)
Imam Ath-Thabari dalam
tafsirnya tentang ayat ini berkata,
"Wahai orang yang benar
keimanannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, 'Peliharalah diri kalian,' Hendaklah satu sama lain saling
mengajarkan sesuatu yang membuat kalian dapat berlindung dan terhindar dari neraka, yaitu apabila
mereka beramal dalam ketaatan kepada Allah. Sedangkan firman-Nya 'Dan (lindungi)
keluarga kalian dari neraka.' Maksudnya adalah ajarkan keluarga kalian amal ketaatan kepada Allah yang dapat melindungi mereka dari api neraka.
(Tafsir Ath-Thabari,
28/165)
Al-Qurthubi berkata,
"Muqatil berkata, ini merupakan
hak yang menjadi kewajiban terhadap dirinya, anaknya, keluarganya dan budaknya. Ilkia berkata, 'Kita wajib mengajakan agama dan kebaikan terhadap anak-anak kita, atau adab apa
saja yang tidak dapat mereka tinggalkan.
Sebagaimana firman Allah Ta'ala,
وأْمُر أهلك بالصلاة واصطبر
عليها (سورة طه: 132)
"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah
kamu dalam mengerjakannya."
(QS. Thaha: 132)
Atau juga sebagaimana firman Allah Ta'ala kepada Nabi shallallahu
alaihi wa
sallam,
وأنذر عشيرتك
الأقربين
(سورة الشعراء: 214)
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat," (QS.
Asy-Syuara: 214)
Juga terdapat dalam hadits
مروهم بالصلاة
وهم أبناء سبع
"Perintahkan
mereka (anak-anak kalian) untuk melaksanakan shalat saat mereka berusia tujuh
tahun."
(Tafsir Al-Qurthubi,
18/196)
Seorang muslim, siapapun
dia, adalah orang yang mengajak kepada jalan Allah Ta'ala, maka jadikanlah
orang yang pertama mendapatkan dakwahnya adalah anak-anak dan keluarganya,
kemudian orang-orang berikutnya. Allah Ta'ala, saat menugaskan Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam untuk berdakwah, Dia berfirman kepadanya,
"Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat," (QS.
Asy-Syuara: 214), karena mereka adalah orang yang paling berhak mendapatkan
kebaikan dan kasih sayangnya.
وجعل الرسول
صلى الله عليه وسلم مسؤولية
رعاية
الأولاد
على الوالدين وطالبهم
بذلك :
Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam
juga menjadikan perawatan anak sebagai tanggung jawab orang tua dan menuntut mereka
untuk itu.
Dari Abdullah bin Umar, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
" كلكم راع وكلكم مسئول
عن رعيته الإمام
راع ومسئول عن رعيته والرجل
راع في أهله وهو مسئول
عن رعيته والمرأة
راعية
في بيت زوجها
ومسئولة
عن رعيتها والخادم
راع في مال سيده ومسئول
عن رعيته قال وحسبت أن قد قال والرجل راع في مال أبيه ومسئول
عن رعيته وكلكم
راع ومسئول عن رعيته " . رواه البخاري
( 853 ) ومسلم ( 1829 )
"Semua kalian
adalah pemimpin dan kalian akan ditanya tentang orang-orang yang kalian pimpin.
Kepala negara adalah pemimpin, dan akan ditanya tentang kepemimpinannya,
seorang bapak pemimpin dalam keluarganya, dan dia akan ditanya tentang yang
dipimpinnya. Seorang ibu pemimpin di rumah suaminya. Pembantu pemimpin terhadap
harta masjiannya dan akan ditanya akan kepemipinannya. Dan saya mengira telah
mengatakan, seseorang peminpin terhadap harta ayahnya dan akan ditanya terhadap
kepemimpinannya. Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya terhadap
kepemimpinannya" (HR. Bukhari, no. 853, Muslim, 1829)
Di antara kewajiban anda
menumbuhkan sejak dini kecintaan terhadap Allah dan Rasul-Nya serta mencintai
ajaran Islam. Hendaknya anda kabarkan bahwa
Allah memiliki neraka dan surga. Neraka Allah sangat
panas, bahan bakarnya dari manusia
dan batu.
Berikut ini sebuah kisah
yang memiliki pelajaran;
Ibnu Al-Jauzi berkata,
"Ada seorang raja
yang memiliki banyak harta. Dia memiliki anak tunggal wanita, tidak ada lagi
anak selainnya, karenanya dia sangat mencintainya dan sangat memanjakannya
dengan berbagai mainan. Hal tersebut berlangsung sekian lama. Suatu saat ada
seorang ahli ibadah yang bermalam di rumah sang raja. Maka di malam hari dia
membaca Al-Quran dengan suara keras, dia membaca, "Wahai orang beriman,
peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari neraka, bahan bakarnya dari
manusia dan batu." Sang puteri mendengar bacaannya, lalu dia berkata
kepada para pembantunya, 'Hentikan dia.' Tapi para pembantunya tidak
menghentikannya sehingga orang tersebut terus mengulang-ulang bacanya. Maka dia
masukkan tangannya ke bajunya dan merobeknya. Lalu para pembantunya melaporkan
kejadian tersebut kepada sang bapak. Maka sang bapak menemuinya seraya berkata
dan memeluknya, "Apa yang engkau alami malam ini anakku sayang." Sang anak berkata, "Aku bertanya
kepadamu demi Allah wahai ayah, apakah Allah Azza wa Jalla memiliki neraka yang
bahan bakarnya manusia dan batu?" Dia berkata, "Ya," Maka sang
anak berkata, "Apa yang menghalangimu untuk memberitahu aku hal ini. Demi
Allah, aku tidak akan memakan makanan lezat dan tidur di tempat yang empuk
sebelum aku mengetahui dimana tempatku, di surga atau neraka."
(Shofwatu Ash-Shafwah,
4/437-438)
Selayaknya anda
menjauhkan mereka dari tempat-tempat keburukan dan kelalaian. Jangan biarkan
mereka dididik dengan cara yang buruk, baik melalui televisi atau selainnya dan
kemudian anda mengharapkan kesalehannya. Orang yang menanam duri tidak akan
memanen anggur. Hendaknya pendidikan tersebut telah ditanam sejak kecil agar
mudah baginya ketika dia sudah besar untuk memerintah dan melarangnya, dan
mudah baginya untuk mentaati anda.
Dari Abdullah bin Amr
bin Ash radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallah alaihi wa sallam
bersabda, "Perintahkan anak kalian untuk melakukan shalat saat mereka berusia
tujuh tahun, dan pukullah mereka apabila berusia sepuluh tahun, lalu pisahkan
ranjang di antara mereka." (HR.
Abu Daud, no. 495, dishahihkan
oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 5868)
Akan tetapi hendaknya
bagi pendidik untuk bersikap lembut dan santun, memudahkan dan akrab, tidak
berkata kasar, berlaku keras dan mendiskusikan dengan cara yang baik. Hindari
celaan dan caci maki hingga pukulan. Kecuali jika sang anak durhaka dan
menganggap remeh perintah bapaknya, meninggalkan perkara yang diwajibkan dan
melakukan perkara yang diharamkan. Ketika itu diutamakan bersikap namun tidak
sampai menimbulkan bahaya.
Al-Manawi berkata,
"Seseorang yang mendidik
anaknya ketika dia berusia balig
dan telah berakal dengan pendidikan yang dapat mengantarkannya pada akhlak orang-orang saleh dan melindunginya agar tidak bergaul dengan
orang-orang rusak, kemudian
mengajarkannya Al-Quran, adab,
bahasa Arab, kemudian dia memperdengarkan sang anak kisah-kisah dan ucapan para
salaf, lalu mengajarkannya ajaran agama yang tidak boleh ditinggalkan,
kemudian dia mengancam memukulnya apabila sang anak tidak shalat, semua
itu lebih baik baginya daripada
dia bersadaqah satu sha'. Karena
jika dia mendidiknya, maka perbuatannya termasuk shadaqah jariyah, sementara sadaqah satu sha', pahalanya
akan terputus.
Sementara yang pertama
tetap terus mengalir selama sang anak masih ada. Dan adab adalah makanan jiwa
dan pendidikannya untuk akhirat kelak ‘Jagalah diri kamu semua dan keluargamu
dari api neraka.’ SQ. At-Tahrim: 6.
Penjagaan anda dan anak
anda diantaranya dengan menashati dan mengingatkan api neraka. Meluruskan
adabnya dengan berbagai macam pendidikan. Diantara adanya adalah memberi
nasehat, hukuman, ancaman, pukulan, menyendirikan, memberikan pemberian, hadian
dan kebaikan. Sehingga pendidikan jiwa agar menjadi (jiwa) yang bersih dan
mulia bukan mendidik jiwa yang tidak disuka lagi tercela. ‘Faidul Qadir,
5/257.’
Pukulan hanyalah sarana agar anak istiqamah, dia bukan merupakan
tujuan, akan
tetapi hanya digunakan jika sang anak terus menerus
membandel dan menentangnya.
Syariat telah menetapkan peraturan sanksi dalam Islam, dan hal itu
banyak dalam Islam, seperti hukum zina,
mencuri, menuduh berzina (tanpa bukti) dan sebagainya. Semuanya itu disyariatkan
agar manusia istiqamah dan menghindari perbuatan buruk.
Dalam hal inilah Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam
berpesan untuk mengajarkan seorang bapak agar anak menurutinya.
Dari Ibnu Abbas, dari
Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam bersabda,
" علقوا
السوط حيث يراه أهل البيت ، فإنه أدب لهم " . رواه الطبراني ( 10 / 248 ) . والحديث : حسّن إسنادَه الهيثمي في " مجمع
الزوائد " ( 8 / 106 ) .
"Gantungkan pecut di tempat yang dapat dilihat keluarga,
karena itu merupakan pendidik bagi mereka." (HR. Thabrani, 10/248)
Hadits ini dinyatakan hasan oleh Al-Haitsami dalam Majma Zawaid
(8/106) Al-Albany menyatakan dalam
shahih Al-Jami, no. 4022, hadits
ini hasan.
Pendidikan anak hendaknya
berimbang antara anjuran dan peringatan. Yang lebih penting dari itu semua
adalah memperbaiki lingkungan tempat anak tinggal dengan mewujudkan sebab-sebab
hidayah bagi mereka, yaitu dengan komitmennya pendidik dan pengasuh mereka yang
tak lain adalah kedua orang tua mereka.
Diantara metoda sukses
para pendidik dalam mendidik anaknya adalah dengan mempergunakan alat rekaman
untuk mendengarkan nasehat, kaset Al-Qur’an, khutbah, pelajaran para ulama’
dimana hal banyak sekali.
Adapun buku-buku yang
anda tanyakan untuk dijadikan referensi dalam mendidik anak, maka kami
rekomendasikan beberapa buku berikut;
1-
Tarbiyatul Athfal Fi Rihabil Islam
(Pendidikan Anak Dalam Islam), karangan Muhammad Nashir dan Khaulah Abdul Qadir
Darwisy.
2-
Kaifa Yurabbi Al-Muslim Waladahu (Bagaimana
Seorang Muslim Mendidik Anaknya), karangan Muhammad Said Al-Maulawi)
3-
Tabiyaul Abna
Fil Islam (Pendidikan Anak Dalam Islam), karangan Muhamad Jamil Zainu.
4-
Kaifa Nurabbi Athfaalana (Bagaimana Kita
Mendidik Anak-anak Kita), karangan Mahmud Mahdi Al-Istambuli.
Wallahua'lam.
Posted By:
Unknown
On 18.43
In
Langganan:
Postingan (Atom)